Only For You (Yandere!WPS Boys × Fem!Reader)

 


Only For You

{Yandere!WPS boys × Fem!reader}

 

[] Include: Jinpei Matsuda, Kenji Hagiwara, Hiromitsu Morofushi, Rei Furuya, & Wataru Date.

[] Summary: WPS boys tidak ingin wanita yang dicintainya didekati oleh siapa pun itu. Mereka memutuskan untuk memusnahkan semua orang yang mendekatinya akan berakhir tragis.

[] POV: Orang pertama (WPS boys)

[] Words: 1.137

Warning!

Pembunuhan, kekerasan, “kecelakaan”, ucapan karakter yang tidak mengenakkan, peledak dan sejenisnya, pistol dan peluru, obsesi.
(Pembaca diharapkan memerhatikan warning dan author’s note di tweet @chirejinhikeaki)

###

Enjoy! ^^

 

Jinpei Matsuda

Semua orang di lapangan menjadi panik dan berlarian ke sana kemari. Kecemasan dan ketakutan yang tercetak di wajah mereka sungguh memuaskan. Ditambah lagi dengan beberapa manusia yang sebelumnya berada di dekat TKP menjadi terluka membuatku tak bisa menahan senyum.

Seperti yang telah kuduga, rencanaku berjalan lancar.

Kepulan asap hitam dari jendela itu mengisyaratkan jika aku menang. Tak ada orang yang bisa menghindari ledakan hebat itu tanpa memiliki persiapan khusus. Bisa dibilang, kekuatan pengendalian bom dari jarak jauh terlalu fantastis untuk dilakukan.

Malangnya Hagi, setelah kuumpan dirinya untuk memasuki ruang kelas itu, ia sama sekali tidak sadar dengan bom yang telah kupasang di dalamnya. Mungkin, ia sudah sadar dari awal dengan keberadaan peledak tersebut, tetapi apa daya jika aku memiliki remot untuk meledakkan bom itu dari jauh?

Aku harus menyingkirkannya. Aku harus menyingkirkannya.

Seseorang yang sudah lama kucintai hampir saja direbut oleh playboy sialan itu. Hubungan mereka sangatlah memuakkan. Kedekatan mereka membuatku stress berhari-hari. Tidak ada pilihan lain.

Membunuhnya adalah opsi terakhir untukku.

Ah sudahlah, aku perlu memusnahkan remot kontrol ini agar tidak diketahui oleh orang-orang. Oh iya, mungkin setelah ini aku akan pergi ke tempat Y/N berada.

Aku harus memastikan jika ia tetap tenang di saat kematian seseorang menghantui akademi.

 

Kenji Hagiwara

Tanganku …, tanganku bergerak sendiri.

Melihat kesempatan yang langka ini, menahannya pun tidak mungkin. Aku tahu jika hal itu salah, tetapi mengapa aku merasa bahagia dan lega?

Seketika, semua orang yang berada di penyebrangan menjadi panik. Berteriak histeris, ketakutan dan kabur dari tempat itu, atau diam di tempat saking syoknya. Tak sedikit juga orang yang memanggil bantuan setelah menyaksikan kecelakaan mengerikan di zebra cross tersebut.

Bukan. Itu bukan kecelakaan.

Jinpei berlumuran darah, tergeletak di tengah jalan. Entah masih bernyawa atau tidak. Namun, melihatnya di kondisi seperti itu membuatku bersemangat.

Tak kusangka mendorongnya ke tengah jalan di saat sebuah Rx-7 melaju kencang terasa sangat memuaskan. Menyingkirkan salah satu hama bukanlah ide yang buruk.

Lagipula, siapa suruh dekat-dekat dengan wanita yang kucintai? Jinpei terlalu baik dan ramah jika ia bersama dengan perempuan cantik semacam Y/N. Luar biasa menjengkelkan. Mungkin, rasa benci itu akan hilang ketika aku memusnahkannya. Dengan tanganku sendiri.

Sial, aku tidak bisa menahan senyum. Membunuh temanku dengan bantuan mobil yang menjadi kesukaanku sejak dulu, benar-benar mengejutkan.

Di saat kita bertemu di neraka nanti, aku akan memberitahumu jika kau lebih baik mati daripada menjalin hubungan bersama wanita itu.

Aku terlalu baik untuk seseorang sepertimu, benar ‘kan Jinpei?

 

Hiromitsu Morofushi

Aku mencium bau itu lagi. Bau logam yang menghantui pikiranku sejak aku kecil.

Seseorang berbaring tak bernyawa, tepat di hadapanku. Tubuhnya dilumuri darah segar, harum khas yang tidak mengenakkan menyembul keluar dari sana. Mungkin, baunya akan berubah menjadi busuk setelah kubiarkan sendirian di kamar ini selama satu atau dua hari.

Tanganku menggenggam sebilah pisau berlapis darah dengan ujung yang tetap condong ke arah depan. Posisi kuda-kuda masih saja kugunakan meski tahap penyerangan sudah kulewati. Tak lama kemudian, lenganku mengayun ke bawah dan tak sengaja menjatuhkan pisau itu.

Seragam biru yang kukenakan saat ini penuh dengan darah. Ditambah lagi cairan kental itu tembus ke dalam dan membasahi perutku.

Sepertinya aku harus membeli sabun paling wangi sehingga aroma darah itu tertutupi. Dan juga, mungkin aku tidak akan memakai jasa laundry untuk hari ini saja dan mencuci seragamku sendiri.

Bisa gawat jika seseorang mengetahui terdapat jejak darah di tubuhku. Jerih payahku tidak akan membuahkan hasil. Zero yang sudah mati tidak akan lagi berguna untukku.

Dan …, Y/N…. Ekspresi apa yang harus kutampilkan jika aku bertemu dengannya?

Setan setan setan! Aku telah kehilangan kendali.

Apakah aku sudah melakukan hal yang benar? Menyingkirkan seseorang yang berusaha merebut Y/N dariku?

Namun, mengapa aku merasa senang? Teman baikku baru saja mati di tanganku sendiri, tetapi mengapa aku merasa bahagia? Aku tak sanggup menjawab seluruh pertanyaan ini, semuanya terlalu rumit.

Oh Y/N…, andai saja kau paham dengan perasaanku sejak dulu.

Aku tidak akan melakukan semua ini jika kau menjaga jarak dengan Zero. Aku tidak akan melakukan semua ini jika kau tidak sebegitu dekat Zero.

Aku tidak akan melakukan ini semua, jika kau juga mencintaiku.

 

Rei Furuya

Aku memandangi pria itu dengan tatapan kosong. Sayangnya, ia sama sekali tidak menatapku balik dan justru memasang ekspresi pucat sembari tertunduk ke bawah. Maklum saja, bagaimana bisa seseorang yang telah menjadi mayat merespon tatapanku balik?

 Langkahku mendekat dan mendekat. Tak lupa dengan mengantongi revolver yang berhasil kurebut darinya. Aku berjongkok, menatap dalam-dalam kedua mata pria itu yang belum tertutup sempurna.

Kemudian, mataku berkeliling, berusaha mencari sesuatu yang dimiliki oleh pria ini. Ponselnya, aku perlu menemukan ponsel miliknya sebelum terlambat.

Kalau tidak salah, aku sempat melihatnya melakukan sebuah panggilan. Dan aku yakin jika panggilan itu terhubung dengan Y/N, dilihat dari bagaimana ia berbicara.

Ah,  Scotch cukup pintar ternyata. Dia mengantongi benda pipih ini tepat di saku kanannya. Di saat aku melubangi anggota tubuhnya itu, ponselnya pun ikut menjadi korban. Kau tidak membiarkanku melihat isi ponselmu …, sungguh menarik.

Namun, sepintar-pintarnya Scotch, tidak, Hiro, aku rasa ia tidak akan pernah paham dengan apa yang kurasakan.

Aku tahu, aku sangatlah tahu jika hubunganmu dengan Y/N hanya sebatas penyamaran. Kalian melakukan ini demi pekerjaan ‘kan? Namun, aku tidak menganggapnya seperti itu.

Kau melebihi batas perjanjian kita, Hiro. Kau sudah tahu kalau aku menyukainya, menyayanginya, mencintainya.

Aku bertanya-tanya, sudah berapa kali aku harus bilang kepadamu, Hiro?

Kau teman baikku, tetapi, kalau soal Y/N ….

 

Wataru Date

Tak kusangka ia terus-menerus merintih kesakitan ketika wajahnya bertemu dengan kepalan tanganku. Kukira lidahnya tak sanggup berbicara lagi semenjak ia mengenai pukulanku yang sangatlah kuat.

Lemah-lemah seperti ini ternyata berani juga ya, mendekati Y/N secara diam-diam.

Di saat kepuasanku telah memuncak, aku meraih sebatang besi bekas di samping tempat sampah yang ada di dekatku. Kemudian, kuayunkanlah besi tersebut tepat ke atas mukanya.

Namun, ternyata keberuntungan memihak pria itu. Ia berhasil menendang kaki kananku dan membuatku jatuh terpeleset. Ia segera bangun dari dinginnya tanah bersemen meskipun kedua kakinya sedikit pincang.

Orang itu lari terbirit-birit dan menghilang dari pandanganku sesudah ia berbelok arah.

Hah …, sialan. Bisa-bisanya aku membiarkan seseorang seperti itu kabur sebelum aku benar-benar lega.

Sudahlah. Toh, tidak lama lagi ia akan menemui ajalnya karena pendarahan di kepalanya itu.

Di saat aku hendak bangkit, kedua mataku menyadari sesuatu yang aneh. Sebuah ponsel tergeletak di bawah kakiku dan tengah menyala. Benda tersebut menampilkan aplikasi obrolan yang terbuka.

Sepertinya ia menjatuhkan ponsel miliknya ini saat kuhajar tadi. Penasaran, kuambillah ponsel itu.

Sontak, jari-jariku mencengkram kuat ponselnya.

Beribu-ribu pesan diterima oleh ponsel ini. Dan, pengirim pesan-pesan itu adalah,

Y/N.

Kok nggak dijawab? Ada apa?

Jangan dibaca doang, aku jadi khawatir.

Kamu nggak apa-apa kan?

Selama aku hidup, tidak pernah aku mendapatkan kasih sayang seperti ini. Selama aku mengenalnya, tidak pernah ia menanyakanku bagaimana kabarnya. Selama aku berada di sampingnya, tidak pernah ia mengkhawatirkanku.

Dan si culun ini, mendapatkannya dengan mudah?

Tidak akan pernah kumaafkan. Tidak akan pernah!

Kupastikan, jika Y/N …, tak sebaik ini kepada orang lain,

kecuali aku.

 

 

Makasih udah baca! Let me know by DM me if you want to request something or give me feedback!

Once again, thank you so much! ^^

Komentar