Janji
{Rei Furuya × Fem!Reader}
[] Include: Rei Furuya
[] Summary: (Y/N) menyukai Rei sejak dulu
kala. Ia tak berani untuk mengungkapkan isi hatinya karena terlalu takut dengan
respon dari lelaki super sibuk itu. Tidak disangka, Rei ternyata juga memiliki
perasaan yang sama dan berencana untuk menyatakannya kepada (Y/N) di Kafe
Poirot (Lanjutan dari Fakechat “WPS Boys as Poirot Employee talking to (Y/N)”)
[] POV: Orang ketiga
[] Words: 2.560
Warning!
Slight Angst, sisanya Fluff biasa.
(Pembaca
diharapkan memerhatikan warning dan author’s note di tweet
@chirejinhikeaki)
###
Enjoy! ^^
(Y/N) mengira jika Rei tidak serius atas
pesannya yang bertuliskan ia akan membuka Poirot lebih awal. Sebagai pelanggan
tetap di sana, wanita itu benar-benar hafal dengan jam buka Poirot, yakni jam
sembilan pagi. Namun, apa yang dilihat (Y/N) saat ini membuatnya tak bisa
mengedipkan mata. Kafe itu sudah buka, tepat di jam enam pagi!
Wanita itu sengaja pergi ke
tempat kerjanya dengan mengambil jalan yang melewati Kafe Poirot. Ia berpikiran
untuk menengok keadaan tempat itu dan memastikan jika temannya benar-benar
menepati janji yang mereka buat kemarin. Dan, dugaannya tidak salah.
Tirai jendela kafe tersebut
terbuka lebar, menampakkan seisi ruangan yang kosong tanpa pelanggan. Di pintu
kafe, terlihat jika papan penanda buka atau tutupnya sebuah toko terpajang ke
luar dengan memperlihatkan tulisan “BUKA”.
Tak hanya itu, lampu redup yang kemarin
mengganggu penglihatannya kini telah diganti dengan yang baru. Entah mengapa Senin
kemarin orang-orang sama sekali tidak menyadari jika salah satu fasilitas di kafe
tersebut perlu diganti. Karena (Y/N) sangatlah sensitif, tidak ada pilihan lain,
kecuali mengadu ke salah satu pegawai Poirot yang “katanya” super teliti, yaitu
Rei.
Ia melihat satu buah sampah kardus berbentuk
lonjong terletak tepat di samping tempat sampah. Kardus itu memiliki logo perusahaan
pembuat lampu, (Y/N) mengetahuinya karena ia juga memakai jenis lampu yang sama.
Kayaknya udah diganti deh, batin wanita itu.
Kling kling kling!
Seseorang keluar dari dalam kafe
sambil membawa satu buah sapu dan cikrak.
Ia memakai kemeja biru muda dan
dilapisi apron berwarna biru tua dengan logo Kafe Poirot di bagian depannya. Pria
itu mengenakan celana chino yang berwarna cokelat susu dan berpadu dengan
slip on hitam di kakinya. Ia menggulungkan kedua lengan kemeja agar jam tangan
yang ia kenakan tampak di pergelangan tangan.
Belum saja kegiatan
bersih-bersihnya dimulai, ia “dikejutkan” dengan kehadiran seorang teman yang mengamati
gerak-geriknya.
“Pagi Zero.” sapa (Y/N).
Rei menghela napas dan berusaha
tersenyum lembut meski di hatinya ia merasa kesal. “Sudah kubilang berapa kali,
jangan panggil aku kayak gitu kalau di luar,” tegurnya. “Dan, pagi juga.”
“Hahaha, maaf. Entah kenapa aku
pingin banget manggil kamu kayak gitu.”
Rei kembali mengangkat kedua
benda yang ia bawa sebelumnya, lalu mengajak (Y/N) untuk masuk ke dalam kafe. Tanpa
ragu-ragu, wanita itu mengekorinya hingga memasuki kafe.
Kling kling kling!
Mereka disambut oleh denting bel
di pintu masuk serta aroma wangi bunga lavender yang datang dari pelembab
udara.
“Baunya wangi~ Perasaan kemarin
baunya vanilla, baru ganti ya?” tebak (Y/N).
Rei mengangguk. Kemudian, ia
pergi ke dapur dan menyiapkan segelas air putih. “Iya. (Y/N) suka?” tanyanya.
“Hu’um! Lavender emang
kesukaanku dari dulu.” Wanita itu pergi ke salah satu kursi yang berada di
depan meja bar. Lalu, ia meletakkan totebag miliknya di bawah meja.
Namun, Rei menyadari hal itu dan melarang (Y/N) dengan halus.
“Tasnya jangan taruh di bawah,
nanti takut kotor.” sarannya khawatir.
“Eh?” (Y/N) terdiam sejenak. “Eh,
nggak apa-apa kok, nanti ‘kan ada pelanggan lain yang bakalan ke kafe. Mereka
malah nggak kebagian tempat duduk.” bantahnya.
Rei menghampiri temannya tersebut
sambil membawa segelas air putih. Setelah meletakkan gelas kaca itu di atas
meja, ia memungut totebag milik (Y/N) dan menaruhnya di atas kursi yang
berada di samping (Y/N). “Mereka bisa cari tempat duduk lain ‘kan?.”
Setelah itu, ia menuju ke arah pintu
masuk untuk mengambil sapu dan cikrak. Rei berpamitan kepada (Y/N) sebelum
melanjutkan kegiatan menyapunya tadi.
Kling kling kling!
Sesudah bel itu bergetar, suasana
kafe kembali menjadi hening. Deru mesin AC mengisi kekosongan ruangan
dan dibantu oleh pelembab udara. Kedua mesin tersebut cukuplah bising, tetapi
setidaknya (Y/N) memiliki sesuatu yang menemaninya di dalam Poirot.
Ia terus-terusan mengetuk meja
seakan tak mempunyai kesibukan lain. (Y/N) menghela napas dan bersandar ke
kursi. Netra cokelatnya tertuju pada lemari bagian atas yang menyimpan segala
barang. Dimulai dari penggiling biji kopi, bermacam-macam piring dengan ukuran
yang berbeda, gelas kaca serta cangkir,
dan masih banyak lagi.
Lalu, ia beralih pandangan ke
sebelah kiri dan jendela kafe pun menjadi fokus utamanya. Bukan. Bukan jendela
itu yang ia perhatikan, melainkan seseorang dibalik jendela tersebut.
Seorang pria yang sudah lama ia cintai.
Mungkin, sejak mereka berdua masih duduk di bangku sekolah menengah?
(Y/N) bingung bagaimana caranya
agar ia dapat menyatakan perasaan aneh ini kepada Rei, mulus tanpa gangguan.
Wanita itu memikirkan segala cara dan selalu menentukan waktu yang tepat.
Namun, Rei sangatlah sibuk
semenjak bergabung menjadi Polisi Keamanan Publik. Ditambah lagi, ia perlu
menyamar sebagai pegawai kafe dan detektif pribadi. Ramainya pekerjaan yang ia
pegang saat ini tak menyempatkannya untuk menghabiskan waktu lebih banyak dalam
beristirahat. Hal tersebut cukup menyusahkan bagi (Y/N). Karena alasan itulah ia
selalu memendam perasaannya dan menunggu suatu kesempatan selama
bertahun-tahun.
Kling kling kling!
Rei baru saja selesai dengan kegiatan
bersih-bersihnya dan masuk kembali ke dalam kafe. Sontak, (Y/N) menoleh ke sembarang
arah dan kembali mengetuk-etuk meja.
“Sandwich-nya jadi ‘kan?”
tanya pria itu.
Ragu-ragu, (Y/N) mengangguk. Tiba-tiba
ia mendengar sebuah notifikasi pesan dari handphone-nya. Wanita itu
membaca nama pengirim dan menyadari jika pesan tersebut berasal dari salah satu
teman kerjanya. Tak perlu waktu lama, (Y/N) telah memikirkan jawaban apa yang
perlu ia kirim kembali sebagai pesan itu.
“Kamu ini, udah kurelain buka
pagi-pagi malah chattingan sama orang lain. Hargai dikit dong.” sahut
Rei.
Jari-jemari (Y/N) berhenti
seketika. Wajahnya terangkat dan menghadapi milik Rei yang tampak kesal. Ia
terdiam mematung, sementara pria itu kembali melakukan pekerjaannya.
“Maaf Rei— Amuro!” Dengan secepat
kilat (Y/N) menaruh handphone-nya tersebut ke dalam tas.
Rei terkekeh. “Kaku amat. Aku
cuman bercanda kok,” jujurnya. “By the way mau kubikinin carbonara
sekalian? Anggap aja traktiran.”
“Waduh nggak usah, kalau aku
makan banyak-banyak malah kekenyangen.” tolak (Y/N) halus.
“Dijadiin bekal aja ya? Lagian
‘kan carbonara kesukaanmu.”
Wajah (Y/N) memerah. Tidak
biasanya Rei mengingat apa yang ia suka, ditambah lagi ia menawarkan makanan
itu dengan cuma-cuma.
(Y/N) mencoba untuk menenangkan
diri dan menjawab usulannya dengan anggukan kecil. Setelah itu, ia meneguk segelas
air putih yang ada di sampingnya dengan kasar sehingga sedikit mengejutkan Rei.
Tenang (Y/N), tenang. Zero ini
orangnya memang kayak gitu,
ucapnya dalam hati.
Selama Rei menyiapkan apa yang
diinginkan (Y/N), lagi-lagi kafe menjadi hening. Namun, gerak-gerik pria itu
menambahkan berbagai macam suara yang membuat suasana di ruangan tersebut hidup
kembali. Sesekali, ia bersenandung kecil dengan irama yang mengikuti lagu favoritnya.
Entah karena reflek atau apa, (Y/N) ikut bersenandung di saat lagu yang dinyanyikan
Rei merupakan favoritnya juga.
Begitu ia menyadarinya, wanita
itu pun berhenti.
“Lho, kenapa berhenti? Suaramu
bagus kok, aku suka.” bujuk Rei.
“Nggak apa-apa, tiba-tiba aja
tenggorokanku rasanya nggak enak.” ucapnya berbohong.
“Kalau gitu mau kuambilin air
lagi?” tawarnya.
(Y/N) menunduk dan menjawabnya
dengan suara yang super kecil, “Boleh.”
Ia mengambil gelas kosong milik
temannya dan mengembalikannya dalam keadaan penuh. Pria itu tidak ingin (Y/N)
merasa tidak nyaman sebagaimana ia adalah wanita yang sensitif.
Apa-apaan???
(Y/N) tetap tertunduk ke bawah di
saat ia merasakan satu kejanggalan. Hatinya meletup-letup, mengakibatkan
permukaan wajahnya dikuasai oleh warna merah yang sangat mirip degan warna
tomat. Ia menggenggam pergelangan tangannya dengan sangat erat dan ia dapat
berspekulasi jika jantungya berdegup kencang.
Ada yang aneh dengan sikap Rei
saat ini. Namun, entah mengapa (Y/N) tidak bisa menebaknya.
Dimulai dari keinginannya untuk
membuka Poirot lebih awal, perubahan sifat yang mendadak, dan hal-hal kecil yang
sepertinya berhubungan dengan (Y/N).
Pria itu bahkan mengganti aroma
pelembab udara menjadi aroma bunga lavender yang merupakan kesukaan temannya. Ia
juga menawarkan fettucine carbonara kepada (Y/N), salah satu menu kafe yang
paling disukai oleh wanita itu. Tak lupa, Rei tiba-tiba saja bersenandung yang
memiliki irama seperti lagu kesukaan (Y/N).
Apakah ini kebetulan, atau hanya perasaannya
saja?
“Oh iya (Y/N), aku mau tanya.” Di
saat pria itu tengah menata tumpukan roti lapis yang akan menjadi santapan
pelanggannya, ia memulai obrolan kembali.
“Hm? Tanya aja langsung nggak
apa-apa.” jawab (Y/N).
Wanita itu baru saja pulih dari
perasaan yang janggal tadi. Ia memiliki cukup keberanian untuk membalas ucapannya.
“Menurutmu …, cinta itu gimana?”
Apa yang dipertanyakan oleh Rei
membuat (Y/N) menurunkan dagunya. Ia menatap pria itu denngan penuh selidik.
“Nggak biasanya kamu nanya
beginian. Pasti ada sesuatu nih~” ledeknya.
“Nggak usah ngejek lah, semua
orang juga pasti begitu.” ujarnya sembari menghias pesanan milik (Y/N).
“Hmm …, gimana ya.” Ia sedikit
ragu untuk menjawab. Seseorang yang telah membuatnya merasakan rasa cinta baru
saja menanyakan bagaimana itu cinta.
“Cinta itu rumit. Udah.” jawabnya singkat.
Rei melirik ke arah (Y/N). “Gitu
doang?”
Wanita itu menggeleng, “Namanya
juga rumit, ya susah dong kalau mau jelasin.” candanya.
Candaan tersebut diikuti oleh suara
tawa dari Rei. Kemudian, diakhiri dengan helaan napas panjang. “Aku pingin
jawaban yang lebih detailnya aja. Siapa tahu opini kita sama?”
(Y/N) mengerutkan dahi, berusaha
memikirkan jawaban terspesial dan terbagus yang pernah ia buat.
“Sejak rasa cinta itu ada, dunia
otomatis berubah, semuanya berubah. Warnanya, isi-isinya, rasanya, dan
lain-lain. Kitanya kayak dipindahin ke alam yang berbeda gitu lho,” jelasnya
panjang. “Tapi maksudnya berubah itu yang beda konsep ya, bukan manusia malah
berubah jadi alien.”
Wanita itu memutar-mutarkan
telunjuknya di permukaan atas gelas, berusaha mencari penjelasan lain meskipun
ia tidak pandai dalam hal tersebut.
“Nah, yang bikin rumit di sini, rasa
cinta itu tiba-tiba datang di saat kita nggak siap.” ujar (Y/N).
Rei mengangguk-angguk, kemudian
lanjut memotong roti lapis itu menjadi dua bagian. “Terus-terus?”
“Kitanya jadi bingung, nggak
ngerti harus ngapain, dan akhirnya malah susah sendiri.” tambahnya.
(Y/N) menyandarkan diri di
sandaran kursi seakan kelelahan setelah menyampaikan pidato di depan orang
banyak. Namun, ia cepat-cepat kembali seperti posisi semula di saat ia
mendapatkan jawaban baru di dalam otaknya.
“Tapi, aku senang-senang aja
kalau bisa ngerasain hal yang kayak gini. Mereka bikin aku sadar kalau aku bener-bener
hidup.” Wanita itu menghela napas kecil dan mengucapkan terima kasih ketika Rei
memberinya sepiring roti lapis yang ia pesan tadi.
“Seriusan kamu nanya ginian itu
kenapa sih? Lagi ngerasain jatuh cinta gitu?” Rasa penasaran (Y/N) telah
memuncak, ia harus menanyakan hal itu langsung kepadanya.
Lelaki itu tak menjawab, ia
justru melirik ke arah samping dan tersenyum kecil. “Beneran mau tahu?”
godanya.
(Y/N) mengangguk tiga kali
sembari mencomot sebuah roti lapis yang telah terpotong untuk ia makan. Perutnya
terasa lapar semenjak ia tak menyempatkan diri untuk sarapan tadi pagi.
“Hmm, bisa dibilang, iya mungkin?”
Jawaban Rei membuat wanita itu
terdiam seketika.
Roti lapis yang ingin ia lahap mengambang
di udara dibantu oleh tangan kanannya yang tiba-tiba menjadi kaku. Mulut (Y/N)
setengah terbuka, menanti kehadiran menu spesial itu meskipun perutnya tak
merasa nafsu lagi.
Wanita itu menghela napas
panjang, kemudian mengunyah roti lapis buatan Rei tanpa dihadiri oleh rasa
semangat. “Kalau boleh tahu, dia siapa?”
“Penasaran banget?” tanya Rei meledek.
Kali ini, (Y/N) sama sekali tak
merespon. Ia lanjut melahap makanan itu dengan muka masam. Ia menghadap ke arah
Rei yang berada di balik bar, memandangi lelaki tersebut dengan wajah tak
seceria seperti menit-menit yang lalu.
“Hm …. Dia itu baik, pinter juga, kadang suka
kaku sendiri, terus juga …, cantik,” jelasnya
lembut. “Dia cerewet banget, tapi sebenarnya dia perhatian.”
“Dia juga sering ke kafe kok,
pelanggan tetap malahan.” tambahnya.
Ternyata ada orang lain ya,
selain aku?
Rei menyadari kejanggalan di raut
muka (Y/N). Lelaki itu menaruh kembali sebungkus fettucine yang akan ia
rebus dan memandanginya. “Kamu kenapa? Kok, mukamu kayak—”
“Nggak apa-apa, cuman kepikiran
sesuatu aja.” sangkalnya.
Cepat-cepat (Y/N) meneguk segelas
air putih dengan tempo yang kasar. Ia sama sekali tak menyisakan setetes air dan
berperilaku seperti orang kehausan di tengah gurun pasir.
Kedua tangannya bergetar hebat,
tetapi wanita itu cukup lihai untuk menyembunyikannya dari Rei yang terkenal profesional.
Ia berusaha menstabilkan ekspresi wajah agar lebih nyaman untuk dilihat.
Tak lama kemudian, ia mendengar
suara derap langkah kaki dari arah samping. Namun, (Y/N) tak berkutik, ia tidak
perlu menoleh dan mengetahui siapa itu.
Sudah pasti jika orang tersebut ialah
seseorang yang berhasil membuat dunianya lebih berwarna, sekaligus seseorang
yang meremuk hatinya dalam 5 detik.
“(Y/N)? Kamu beneran nggak
apa-apa?” tanya Rei.
Belaian lembut kini terasa di
punggung wanita itu. Cepat-cepat, ia menyingkirkannya dengan kasar. “Aku beneran
nggak apa-apa Rei.”
Tangkisan yang tak disangka olehnya
membuat pria itu melebarkan kedua mata. Sekali lagi, ia berusaha untuk mendekatkan
diri dan mengamati raut wajah yang terlihat palsu tersebut.
“I know you’re not okay, (Y/N).
Ngomong aja—”
“Udahlah Rei aku bilang nggak apa-apa
ya nggak apa-apa!”
Bantahan (Y/N) menggelegar ke seluruh
ruangan, mengejutkan Rei yang awalnya berniat baik menjadi cemas dan semakin khawatir.
Napas wanita itu berjalan
perlahan tetapi terasa berat. Kedua alisnya menurun, memperlihatkan jika (Y/N) benar-benar tidak menyukai tindakan darinya. Terlihat
air mata membendung yang siap mengalir dan membasahi kedua pipi merahnya.
“Kalau kamu memang beneran lagi
suka sama satu orang setidaknya jangan kasih perhatian yang berlebih ke orang
lain, Rei!”
“Kamu bisa aja nyakitin perasaan
orang itu!”
Suara (Y/N) bergetar, tak mampu
lagi menahan amarah yang sebenarnya tak ingin ia keluarkan. Beberapa tetes air
mata kekecawaan pun turun dari matanya. Wanita itu mengepalkan kedua tangan
seolah-olah tak ingin melepas sesuatu.
Rei diam tak bersuara. Ia tertunduk
kecil sambil mengabaikan surai pirangnya yang menutupi sebagian kecil wajahnya.
Selama beberapa menit mereka berdiri
berhadapan meskipun tak ada yang berani untuk saling menatap satu sama lain. Deru
napas Rei hampir menyamai milik (Y/N) semenjak wanita itu mulai kembali tenang.
Dan akhirnya, (Y/) mencoba untuk
memulai pembicaraan kembali.
“I love you, Zero.”
Serangkaian kata yang muncul
tiba-tiba dari mulut (Y/N) mengisi keheningan kafe. Namun, yang terdengar dari kalimat
tersebut bukanlah kebahagian, melainkan kesedihan yang mendalam.
“Kamu pasti paham sekarang—”
Sreg
Apron biru tua yang tak pernah ia
rasakan kelembutannya kini bersatu dengan tubuhnya seperti dua magnet yang
bertemu. Beberapa helai rambut pirang menggelitik telinga kiri (Y/N),
membuatnya merinding dengan sensasi aneh yang terasa asing di kehidupannya. Sebuah
kehangatan baru saja hadir dan ikut melengkapi suasana ganjil tersebut.
Wanita itu merasakan dua lengan yang
kekar tengah menyelimuti punggung kecilnya. Ia terbelalak begitu menangkap
detak jantung orang lain yang ikut muncul di dalam tubuhnya itu.
“Emang salah ya, aku ngasih
perhatian ke orang yang aku cintai?”
Ucapan Rei membuat perutnya berbunga-bunga,
menumbuhkan sepetak “kebun” yang didatangi oleh sekumpulan kupu-kupu cantik. Pupilnya
membesar, diikuti dengan kelopak matanya yang melebar.
“I love you too, (Y/N).”
“Huh? Rei …?”
Rei melonggarkan pelukannya
meskipun ia tidak ingin lepas dari tubuh wanita itu. Ia beralih menatap (Y/N) dan
menghujaninya dengan senyuman yang tak pernah ia perlihatkan kepada orang lain.
“Aku serius. Aku bener-bener cinta sama kamu,”
ungkapnya. “Udah dari lama pingin ngungkapin, tapi …, kamu tahu ‘kan kesibukanku
kayak gimana?”
(Y/N) menunduk ke bawah, malu
untuk menunjukkan pipinya yang memerah seperti tomat. Ditambah lagi ia berusaha
untuk menarik kembali ingus di hidungnya tanpa mengeluarkan suara sekeras
mungkin.
“Zero, kamu anjing.”
Rei tertawa kecil, mendengar (Y/N)
mengeluh di dalam pelukannya terlihat sangat lucu. “Pujian atau hinaan itu?” tanyanya sembari mengusap lembut pipi wanita
itu.
Ia terdiam untuk sesaat, menikmati
belaian tangan Rei yang berlangsung selama beberapa detik.
“Terus …, yang dari tadi kamu
lakuin itu, buat aku semua?” Ragu-ragu, (Y/N) mengangkat kepalanya agar ia
dapat melihat Rei dengan jelas. Ia tahu hal tersebut cukuplah berbahaya bagi
hati mungilnya, mengingat jika jarak wajah pria itu luar biasa dekat dengan
milik (Y/N).
“Baru sadar sekarang?”
“Ya ‘kan aku nggak mau ge’er!”
Tiba-tiba, Rei mendekatkan
wajahnya lebih dekat dengan wanita itu. Ia dapat merasakan tempo napas (Y/N)
yang semakin meningkat.
Jantungnya berdegup kencang, sebentar
lagi momen yang telah lama ia tunggu akhirnya akan terjadi.
“So …, (Y/N), do you
want to be mine, forever?”
Wanita itu tak menjawab, melainkan
tersenyum bahagia dan ikut mendekatkan diri hingga bibir mereka hampir bersentuhan.
“Kamu udah tahu jawabannya, Rei.”
Waktu itu, Kafe Poirot tak
sengaja menjadi salah satu saksi atas terbentuknya pasangan baru. Momen spesial
yang sulit untuk disangka pun menjadi sejarah awal perjalanan mereka berdua.
Makasih udah baca! Let me know by DM me if you want to
request something or give me feedback!
Once again, thank you so much! ^^
Komentar
Posting Komentar